Pendidikan
Obat
SB
Shinta Barasa
Penulis IMABK
20 Februari 2026
2 menit baca
Ketika seseorang memakan obat, biasanya dikarenakan ada keluhan atau gangguan, kalau gangguan cukup berat maka biasanya harus ke dokter untuk mendapatkan obat yang diajurkan dengan tepat.
Dokter akan menyarankan obat yang sesuai dengan keluhan pasien, jadi sangat penting bagi pasien memberikan informasi selengkap mungkin.
Jangan sampai sakit gigi malah dapat obat sakit kepala, atau sakit leher di kasih obat kolestrol padahal hanya karena salah urat.
Datang ke dokter yang tepat juga akan mempengaruhi efektifitas pengobat, apakah dokter yang mau mendengar, dokter yang mau mengarahkan , dokter yang mau mengumpulkan informasi yang banyak dan seterusnya.
Kemudian ketika kita mendapatkan obat, maka biasanya kita akan menemukan tulisan :
1. Aturan pakai, obat tidak dikomsumsi dengan sembarangan, karena ada obat yang di konsumsi sebelum makan atau setelah makan, atau boleh dimakan harus bersamaan dengan obat tertentu atau bahkan tidak boleh dimakan bersamaan dengan yang lain, kemudian berapa banyak dimakan dalam sehari, semua diatur dengan teliti sesuai kebutuhan pasien. Ketika kita mengajari anak aturan pakainya juga akan mempengaruhi efektifitas metode, misalnya banyak sedikitnya sesi akan sangat berpengaruh, selain itu metode yang digunakan juga terkadang berkaitan dengan metode lainnya, atau menggunakan satu metode harus diberikan setelah metode lainnya, dan seterusnya.
2. Efek samping, kita harus membaca dengan teliti efek samping dari obat, apakah akan membuat kantuk, membuat lapar, membuat muncul alergi lain dan sebagainya. Begitu juga dengan menggunakan metode atau pendekatan, pasti ada efek samping, misalnya ketika anak diajari dan makin pintar bisa jadi muncul perilaku lainnya jadi harus paham dengan efek samping. Misalnya lagi ketika anak diberikan metode tertentu semakin pintar maka akan muncul perilaku lainnya yang tidak terpikirkan akan menyulitkan, semisal, anak yang tadinya tidak bicara setelah diberikan pendekatan jadi banyak tanya, anak yang diberikan pendekatan jadi bisa berpikir mencari solusi lain untuk bisa memenuhi kebutuhannya, dan seterusnya.
3. Kontra indikasi
Beberapa obat tidak boleh diberikan pada pasien tertentu karena ada alergi atau ada penyakit lainnya. Bagaimana dengan terapi, apakah memungkinkan pemberian terapi memiliki kontra indikasi jika di berikan kepada anak?, jawabannya mungkin saja, misalnya anak yang belum siap oralnya, mentalnya belum siap, namun di berikan metode untuk bicara atau ketika anak diberikan metode fisik tertentu padahal usianya sudah memasuki 18 tahun.
Kalau kita merujuk ke terapi atau metode/ pendekatan ke anak, maka hampir sama dengan mengkomsumsi obat, semua ada aturannya, ada kontra indikasinya, ada gejala yang mungkin akan muncul dan seterusnya, oleh karena itu, carilah praktisi yang tidak hanya menjual jasanya namun juga mengarahkan, menasehati, dan mengajari yang benar.
Obat yang bagus belum tentu akan bagus di tubuh kita, obat yang mahal belum tentu itu yang di butuhkan oleh tubuh kita, maka pemberian obat yang tepat sesuai kebutuhan tubuhlah yang tepat, demikian juga dengan pemberian intervensi kepada anak, jangan sampai salah memberi, karena akan ada efek sampingnya.
Berhati - hati itu perlu dan bijaksana dalam menggunakan "obat" untuk anak itu keharusan.
"untuk anak kok coba - coba "
Bagikan:
chat_bubble Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama membagikan pendapatmu!