Pendidikan
Pergumulan
SB
Shinta Barasa
Penulis IMABK
20 Februari 2026
2 menit baca
Sedikit berbagi mengenai pergumulan hidup saya.
Saya punya bergumul yang masih berproses.
Saya yang seorang guru, dengan idealisme pribadi terkadang terbentur dengan kode etik kerja.
Kode etik sebagai guru diantaranya :
1. Tidak boleh terlibat secara emosional dengan klien
2. Memahami porsi kerja
Ada banyak kode etik lainnya, namun saya selalu berbenturan dengan kedua diatas.
Ketika saya bekerja maka, ada tendensi untuk terlibat penuh, yang terkadang ditangkap/ di interpretasikan sebagai berlebihan di sisi sesama profesi, yang di prediksi akan menggangu hubungan kerja dengan klien.
Pendapat saya pribadi menjadi guru terhadap anak artinya memahami bahwa semua orang harus terlibat, dan itu artinya orangtua juga harus terlibat, sehingga orangtua juga perlu diajari, nah secara kode etik, ini tidak harus / tidak wajib sedangkan pemikiran saya, kalau orangtua tidak terlibat akan sulit membuat anak berkembang secara pesat.
Batasan lainnya adalah porsi kerja, ketika kita di harapkan mengajarkan A maka yang dikerjakan A, sedangkan saya, terkadang harus mengajarkan bagaimana menganalisa, bagaimana memproses informasi, bagaimana melakukan perencanaan dan lain sebagainya, ini juga dianggap tidak perlu / tidak wajib, karena akan membuat klien menjadi kewalahan.
Mengajari orangtua adalah core dari semuanya, cara mereka memiliki persepsi, menganalisa dan merencanakan perlu diajari --- menurut saya!
Idealisme
Humanisme
Profesionalisme
Moral
Kode etik
Sepertinya tidak akan pernah bisa berjalan beriringan, pasti akan ada masa dimana saling bersinggungan.
Yang saya lakukan selama ini adalah membuat batasan, agar saya mengerjakan dengan idealisme pribadi walaupun terkadang harus mengambil keputusan tidak nyaman.
Contoh:
Ketika ada klien datang, maka dari awal saya sudah katakan mereka berproses dan demikian juga saya melakukan evaluasi, tahapan 1 - 3 evaluasi, tahapan 4 determinasi, dengan konsekuensi klien marah, kecewa, sakit hati, sedih, dll, kenapa harus sampai determinasi karena saya menjaga diri sendiri terhadap siklus yang kemungkinan tidak bisa di ubah dalam waktu dekat, yang kemungkinan akan berpengaruh pada hasil kerja saya ( reputasi kerja ).
Mendeterminasi klien ketika mereka sudah di evaluasi berkali - kali bukan sesuatu yang mudah, karena tau konsekuensi kata yang akan tersebar tak terkendalikan. Dan saya menerima konsekuensi tersebut.
Saya menerapkan cara ini cukup lama, dengan pemikiran, ketika saya tegas, maka saya menjadikan diri saya bagian dari proses berkembangnya klien, mereka menjadi pribadi lebih baik, karena mengalami kepahitan dengan saya.
Banyak orang melihat tindakan saya sebagai "bunuh karakter sendiri " -- buat saya tidak apa - apa, karena saya mau ambil bagian diproses klien itu bertumbuh dan belajar, walaupun part saya di bagian yang sulit --- semua orang memiliki peran di bumi ini, pahit ataupun manis.
Tulisan ini saya buat, untuk orangtua yang pernah atau sedang berproses melalui saya, dan tidak indah, tulisan ini mungkin akan menjelaskan kenapa hal tersebut terjadi.
Yang saya buat tidak ideal buat yang lain, tidak apa - apa.
Saya lebih memilih memiliki 1 klien tapi saya menikmati proses yang berlangsung.
Saya menjaga kualitas kerja saya dengan memastikan semua berjalan dengan baik, terutama ketika saya dan klien bisa mendayung ke pulau yang sama.
Pergumulan ini tidak mudah.
Mendewasakan.
Membuat saya juga belajar, komunikasi lebih baik, interpersonal dan intrapersonal skill yang lebih baik, penerimaan diri dan seterusnya.
Everything happen for a reason.
Peace upon you.
Bagikan:
chat_bubble Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama membagikan pendapatmu!