Logo Indonesia Mengajar ABK

Indonesia Mengajar ABK

menu
Merubah Cara Pandang Kita Melihat Sebuah Kata
Kategori: Pendidikan
Pendidikan

Merubah Cara Pandang Kita Melihat Sebuah Kata

SB

Shinta Barasa

Penulis IMABK

20 Februari 2026

3 menit baca

Kali ini saya mau sedikit merubah cara pandang kita melihat sebuah kata, karena sebuah kata yang sudah menetap dalam persepsi akan dimaknai dan dikenali dalam bentuk perilaku. Kalau perilaku yang dimunculkan karena satu kepercayaan ( belief ) yang berasal dari pengalaman dan pembelajaran yang tepat maka informasi ini mungkin tidak akan menjadi penting, namun sayangnya saya harus berbagi informasi ini karena banyaknya hal yang menurut saya sedikit perlu di luruskan. Kata yang saya maksud adalah 'guru' terutama pada posisi terapis abk yang berperan sebagai guru Guru dalam bahasa sansekerta yang artinya pengajar atau pemimpin keagamaan --- Guru adalah seorang individu yang memberikan pengajaran kepada muridnya sehingga menuju kepada sebuah hikmat yang lebih. Guru adalah akronim dari bahasa jawa digugu lan ditiru yang artinya orang yang dipercaya dan diikuti. Sampai disini pembaca diharapkan memiliki kesepakatan atas pemaknaan kata guru, guru adalah individu yang mengajar yang memiliki karakter dipercaya dan akan diikuti. Guru adalah pengajar ----- disinilah kerancuan mulai hadir. Pengajar harusnya tidak memiliki deadline, ketika kita ingin murid untuk memiliki hikmat yang lebih maka kita tidak bisa memaksakan hikmat itu masuk atau memaksakan murid menerima hikmat tersebut, hikmat membutuhkan waktu untuk bersemayam sampai akhirnya bersinar. Bayangkan kalau kita sebagai terapis dikejar deadline, sehari harus mengerjakan 20 - 25 program, harus menyelesaikan 1 block kurikulum dalam 3 bulan atau 6 bulan, maka sebagai pengajar akan ada perubahan perilaku dimana akan cenderung lebih tergesa - gesa, memaksa, tidak berempati, memiliki sudut pandang diri sendiri, dan tidak terfokus pada perkembangan anak namun penyelesaian program. Coba kenali perilaku kita sebagai guru/ terapis, gunakan video sebagai alat evaluasi diri, fokus pada diri sendiri, apakah kita yang ada di dalam video sebagai guru/ terapis adalah orang yang kita ingin hadirkan atau tampilkan, apakah orang tersebut adalah guru/ terapis yang kita inginkan untuk mengajar seorang murid atau bahkan mau kah kita diajari oleh orang yang ada di video tersebut????? Bedakan memiliki target dengan memiliki deadline, target itu penting namun tidak diikuti dengan deadline. Pengajar harusnya memberikan tuntunan bukan jawaban, kalau kita memberikan jawaban maka murid selamanya tidak akan belajar berpikir, bayangkan kalau kita sebagai terapis hadir dengan kepercayaan murid kita adalah komputer kosong yang drivernya perlu di isi sehingga berfungsi dengan baik maka selamanya kita akan berpikir mereka tidak berpikir, apalagi kalau kita sampai berpikir mereka tidak berperasaan ini fatal sekali. Bahkan ketika murid memberikan jawaban yang salah harusnya sebagai guru kita tidak mengkoreksi dengan memberikan jawaban namun kita akan memberikan tuntunan menuju kebenaran. Tuntunan dapat berupa penjelasan kenapa hal tersebut salah, dalam banyak kesempatan murid kita menolak memperbaiki jawabannya karena memang itu yang dia pikir benar, atau beberapa kali diajari tetap saja anak masih salah, hal ini terjadi karena kita langsung memberikan jawaban dan tidak menjelaskan kenapa jawabannya salah. Kita harus mencamkan bahwa mereka adalah mahluk yang dapat berpikir, gunakan sudut pandang mereka untuk menemukan solusi. Saya pernah berbicara dengan dewasa berkebutuhan khusus, katanya ' saya tidak terima ketika orang mengatakan kami ( abk ) manipulatif ' , lebih jauh dia menjelaskan bahwa betul ia berusaha kabur ketika belajar, betul ia tidak ingin belajar, betul ia memaksakan jawabannya, semua itu karena dia punya sudut pandangnya sendiri, cobalah melihat dari sudut pandang mereka, siapakah yang sebenarnya manipulatif, bagaimana dengan reinforcement kalian, bukankan itu juga artinya kalian berusaha memanipulasi perilaku kami?? dengan keras ia menjelaskan. Seorang murid dikatakan murid / pengikut karena adanya kemauan mengikuti, kemauan ada karena adanya kepercayaan, kepercayaan terhadap gurunya. Jangan mulai mengajar kalau muridnya saja belum percaya, bagaimana mungkin kita memintanya untuk meniru dan mencontoh yang kita ajari, kalau kepercayaan aja belum hadir. Kepercayaan hadir bukan karena diminta, namun ia diberikan, jadi kitalah yang harus menyakinkannya bahwa kita akan membawanya kepada sesuatu yang baik, karena pada dasarnya murid tidak tahu kalau ia membutuhkan pengajaran. Jadi, Guru adalah seorang individu yang memiliki kemampuan mengajar/ menuntun serta memiliki karakter yang dapat dipercaya dan layak ditiru. Mulailah dengan satu tarikkan nafas dan katakan saya menerima dan membuka diri pada persepsi ini. Hadirlah layaknya seorang yang tahu persis apa yang akan di ajari, kuasai, taklukkan ilmunya sehingga menuturannya menjadi lebih luwes dan mengena. Hadirlah layaknya seorang sahabat yang dapat dipercaya dan didekati. Penutup, Mengajarlah dan jadilah guru layaknya hari ini adalah hari terakhirmu mengajar, bagaimana kamu ingin diingat. Salam, semua guru semua murid. Dari: Guru produk kolonial berpikir cara generasi alpha.
Bagikan:

chat_bubble Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama membagikan pendapatmu!