Logo Indonesia Mengajar ABK

Indonesia Mengajar ABK

menu
Berada dalam ruang publik sebagai pemberi saran
Kategori: Pendidikan
Pendidikan

Berada dalam ruang publik sebagai pemberi saran

SB

Shinta Barasa

Penulis IMABK

21 Februari 2026

2 menit baca

Berada dalam ruang publik sebagai pemberi saran Berada dalam ruang publik, terutama ruang publik sosial media yang tidak bertatap muka, tidak saling kenal membuat saya sangat kesulitan untuk memberikan saran atau pendapat, terutama kalau si pencerita tidak dapat memberikan penjelasan yang cukup detail. Berada dalam ruang publik sosial media dan memberikan saran membuat saya jauh lebih detail lagi memberikan pertanyaan agar mendapatkan gambaran persepsi yang sama dengan si pencerita namun hal ini terkadang membuat si pencerita tidak nyaman dan berakhir dengan tidak mau menjawab lagi, atau menghilang begitu saja. Sebagai pemberi saran di ruang publik media sosial dimana si penanya dan si pencerita tidak bertatap muka beresiko sekali terjadi kesalah pahaman, bahkan akan sangat mudah terpleset kepada pemberian saran yang salah, pemberian diagnosis yang sebenar tidak mungkin dilakukan di ruang publik sosial media yang tidak bertatap muka dan hanya berdasarkan cerita. Keresahan si pencerita yang sedang galau dan menginginkan diagnosa bahkan petunjuk langsung hanya akan membuat dia semakin terjerumus terutama ketika dia tidak menggunakan filter/ penyaring atas apapun yang dia baca di ruang publik sosial media yang tidak bertatap muka dengan segala hoax yang beredar. Menjaga idealisme sebagai pemberi saran di ruang publik sosial media tanpa tatap muka tidaklah mudah, karena terkadang timbul prejudice / prasangka bahwa tidak mau membantu atau bahkan mempersulit, saya pastikan ketika anda bertanya hanya satu kali dan langsung mendapatkan saran, pastilah saran itu sangat umum, bias, dan subjective... Maka bersabar dan bersyukurlah ketika anda bertanya malah ditanya ulang, ditanya lagi, ditanya terus karena pastinya si pemberi saran betul betul menginginkan gambaran yang sama dengan apa yang di ceritakan. Berhati - hatilah kalau mendapatkan diagnosa di ruang publik sosial media yang tidak bertatap muka, curigalah Kalau anda mendapatkannya, question yourselves about it, apa mungkin bisa, so... Ketika andalah yang menginginkan diagnosa di sosial media tanpa tatap muka, maka anda sendiri yang memberikan peluang untuk membuat kesalahan. Ruang publik sosial media tanpa tatap muka, kita jadikan ruang diskusi, bertanya, melempar jawaban dan saling tukar informasi tapi tidak untuk diagnosa apapun bentuknya.. Jadi ketika saya bertanya berulang - ulang kembali dan ketika saya tidak memberikan saran langsung bukan karena saya tidak mau menjawab, semata - mata saya ingin anda mendapatkan jawaban itu sendiri, karena yang ada dalam situasi tersebut adalah anda, dan tentunya lebih tahu apa yang terbaik dan yang paling mungkin bisa anda lakukan. Saya paham betul bahwa ketika sedang galau lebih enak Kalau langsung dapat obatnya dan merasa langsung lebih baik.... Tapi kita semua tahu Kalau itu bisa menyebabkan malpraktek yang akan menjadi korban adalah anak dan tentunya anda sendiri. Menjadi pengguna sosial media tanpa tatap muka haruslah mengedukasi diri mengenai apa yang benar dan salah, mengasah pikiran untuk menyaring informasi, mempertajam kemampuan dalam aplikasi informasi yang di dapat sehingga sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan. Ayoo... Jadi pengguna ruang publik sosial media tanpa tatap muka yang cerdas. Salam Peduli Orangtua ABK galau #janganzolimsamaanak
Bagikan:

chat_bubble Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama membagikan pendapatmu!