Pendidikan
Teori, Kurikulum dan Program.
SB
Shinta Barasa
Penulis IMABK
20 Februari 2026
3 menit baca
Melihat kemampuan apa saja yang dipelajari ketika,
Menendang bola:
1. Anak akan mengenal kata tendang, bola, gawang.
2. Anak akan belajar mendengar perintah tendang lalu merespon menendang atau ketika kita mengatakan, "1...2..3..." dan anak menendang.
3. Anak akan belajar konsentrasi.
4. Anak akan belajar koordinasi mata dan kaki.
Ketika anak berhasil menendang ke gawang, anak akan belajar:
1. Imitasi gerakkan ketika selebrasi/ merayakan kemenangan, gerakan yang di sesuaikan dengan kemampuan anak
2. Imitasi suara, "gooll"
3. Ketika kita tanya, "siapa yang menang?" Anak merespon, "saya..." Atau "siapa yang memasukkan ke gawang..?" Anak merespon. "Saya yang nendang" (memasukkan ke gawang. Kalau komunikasi sudah lebih baik)
Ketika anak gagal menendang:
1. Anak belajar dibantu
2. Anak belajar mencoba kembali
3. Anak belajar mengatasi kegagalan
4. Anak belajar Bilang "susah" ( Kalau yang verbal), atau Bilang "terlalu jauh" ( ketika jarak ke gawang di rasa jauh)
Dan ketika latihan diatas di lakukan maka, kita sedang mengajarkan anak:
1. ABA dengan reinforcement, DTT (Discrete Trial Training), ABC (Attecedent Behavior Concequences) dan Prompt (Bantuan).
2. SI (Sensori Integrasi) / OT (Okupasi Terapi), dengan segala target motorik.
3. Verbal Behavior (Mand, tact, Interverbal)
4. PRT / theraplay / Playtherapy / RDI, Sonrise dengan konsep bermain dan penekanan untuk konsep pendekatan pada anak serta membangun koneksi dengan orangtua. Selain itu tergantung program bermain bola pada masing masing teori ( RDI, PRT, dll) ada pada level program apa pada kurikulum mereka.
5. Terapi Wicara, imitasi suara, Dll.
Orangtua memang perlu mengetahui dalam satu aktivitas apa saja yang akan di capai anak. Namun orangtua tidak perlu tau semua konsep Terapi dan segala programnya.
Sesuaikan dengan kemampuan masing masing, Kalau memang ada waktu untuk belajar silahkan. Namun jika waktu itu lebih bermanfaat di maksimalkan dengan menghabiskan dengan anak itu sendiri, mungkin akan sangat jauh bermanfaat.
Semangat belajar perlu disinambungkan dengan waktu yang di habis dengan anak. Bukan hanya waktu, namun pikiran yang lebih fokus ke anak dan kemampuan anak yang harus di kejar. Bukan waktu malah habis untuk mengetahui semua program dan kurikulum yang pada akhirnya membuat bingung.
Coba ibu dan bapak pecah beberapa kemampuan dalam keseharian ini:
1. Makan/ minum
2. Memakai dan membuka baju
3. Mandi
4. Memakai dan membuka kaos kaki / sepatu
5. Merapikan mainan
6. Mencuci tangan dan kaki
Dll
Aktivitas diatas masukkan ke dalam kolom kemampuan apa saja yang akan di pelajari anak, secara:
1. motorik ( kasar, halus, dan oral)
2. kemampuan kosakata ( mengenali kata benda, kata sifat, posisi, kata kerja dll)
3. identikasi ( nama benda)
4. imitasi gerak ( gerak sederhana sampai sequence)
5. Konsentrasi dan fokus ( berapa lama anak bisa melakukan satu aktivitas)
6. Kemandirian dan bina diri
dll
Kemudian buat kolom lagi dari kemampuan yang di targetkan sebelumnya... Akan dilanjutkan kemana dan bisa di kombinasikan dengan apa. Serta bagaimana cara mengeneralisasikannya.
Ketika semua aktivitas diatas di lakukan minimal 2x sehari maka dalam seminggu 14 X trial, maka harusnya anak bisa melakukan sendiri lebih cepat ( catatan, harus konsistensi)
Tidak usah khawatirkan masalah kurikulum / program dll ( bukan berarti tidak penting, namun lebih realistis dengan situasi dan kondisi diri sendiri), terutama ketika hal diatas saja kita belum bisa konsisten dalam pelaksanaannya.
Catatan ini untuk para orangtua yang memiliki anak yang baru di diagnosa atau orangtua yang terjebak dengan semua teori. Kecuali anda memang berminat untuk menjadi konsultan nantinya. Maka memang perlu tau semuanya. Kalau tidak. Anda hanya perlu tau anak anda dan apa yang harus di kejar. Karena waktu tidak bisa di putar ulang dan akan berjalan terus.
Salam Peduli Edukasi Orangtua ABK.
Bagikan:
chat_bubble Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama membagikan pendapatmu!