Parenting
Surat untuk Orangtua dengan ABK
SB
Shinta Barasa
Penulis IMABK
20 Februari 2026
3 menit baca
Kepada Orangtua,
ditempat.
Salam hangat,
Dengan ini saya menuliskan beberapa hal yang mungkin bisa membantu untuk menyikapi diagnosa yang barusan diterima di tangan, masih bergetar mungkin..tidak apa – apa, berikan waktu untuk diri sendiri untuk menerima, cukup 5 hari saja, menangislah, teriaklah, marahlah...
Lepaskan semua agar tidak menjadi ganjalan dikemudian hari, setelah itu harus siap untuk menghadapi apa yang telah digariskan.
Saya beritahukan bahwa diagnosa itu:
1. Bukan dosa
2. Bukan kutukan
3. Bukan pemutus harapan dan cita – cita yang telah dirancang
4. Bukan beban
Jangan biarkan diagnosa ini;
1. Merusak hubungan dengan pasangan
2. Merusak diri sendiri
3. Merusak anak yang lain
Diagnosa 1 – 3 tahun:
1. Tidak perlu konsep terapi yang pada umumnya.
2. Luangkan waktu 24 jam/hari dengan anak
3. Ajarkan anak selayaknya anak seusianya
4. Perbanyak bermain tanpa gadget
5. Perbanyak aktivitas motorik ( halus,kasar dan oral )
6. Perbanyak kegiatan diluar rumah.
Diagnosa 4 – 6 tahun:
1. Mulai memasukkan sedikit saja, porsi anak bisa duduk dalam jangka waktu cukup lama ( 10 – 30 menit ) di sesuaikan dengan kemampuan dasar
2. Luangkan waktu 24/hari dengan anak
3. Ajarkan anak selayaknya anak seusianya, rentang usia ini sudah harus memiliki tanggung jawab, melap meja, meyiram tanaman, merapikan rak sepatu, dll
4. Bermain mulai dimasukkan pengenalan taktik, pemecahan masalah, berkelompok, dll
5. Aktivitas motorik lebih ke arah olah raga
6. Aktivitas keluar rumah dengan target yang lebih spesifik.
Diagnosa 7 tahun
1. Perbanyak aktivitas fisik
2. Perbanyak aktvitas diluar rumah
3. Perbanyak kemampuan bina diri dan kemandirian lainnya
4. Mengajarkan kognitif disesuaikan dengan kemampuan dan daya belajar anak tersebut ( sudah tidak menjadi prioritas kalau anak belum mandiri )
Terapi adalah usaha untuk memulihkan kesehatan orang yag sedang sakit atau dalam perawatan ( KBBI ).
Terapi = belajar
Terapi itu tidak merujuk ke satu bentuk yang tertentu, demikian juga dengan belajar, jadi ketika kita mendapatkan diagnosa awal anak usia 1 – 3 tahun maka tidak perlu konsep terapi pada anak usia 7 tahun diterapkan.
Seberat apapun diagnosa awal pada usia 1 – 3 tahun kemungkinan anak berubah diagnosa nantinya sangat besar dengan syarat pemberian penanganan yang tepat, konsisten dan sistematis serta waktu ( 24 jam/ hari, 7 hari seminggu ) yang banyak maka kita akan dapat melihat perubahan pada anak di 1 - 3 bulan pertama penanganan.
Caranya :
1. Hilangkan dari benak kita konsep diagnosa --- gunakan diagnosa sebatas pengetahuan dasar atas kemampuan anak bukan sebagai sesuatu yang final.
2. Langsung mengambil tindakan dengan memberikan anak waktu dan perhatian yang dia butuhkan.
3. Perlakukan anak sebagai anak...bukan sebagai diagnosa, lakukan hal – hal yang orangtua pada umumnya akan lakukan.
4. Bermain adalah kunci untuk anak bisa melakukan hal yang baru..dengan bermain anak belajar mengenal warna, mengenal benda, menguatkan motorik halus, motorik kasar, dan oral.
BERMAIN = BELAJAR
Bermain itu penting, dengan bermain anak membantu dirinya membentuk otot yang akan dia perlukan pada kemampuan lainnya, ketika motorik halus anak terasah saat bermain maka sebenarnya kita mempersiapkan dia untuk bisa makan sendiri, membuka dan memakai baju sendiri, serta menyiapkan dia untuk menulis.
Ketika anak bermain kemampuan kognitifnya sangat diasah, bagaiamana dia harus bisa fokus, bagaimana dia mengkoordinasi tangan dan kakinya, bagaimana dia memecahkan masalah / kendala yang dia hadapi, bagaimana dia bisa bermain sendiri maupun berkelompok dan semua kemampuan diatas dibutuhkan saat dia masuk sistem sekolah.
Semakin banyak waktu yang anak habiskan bermain, semakin baik perkembangan psikologi anak tersebut, menjadikan dirinya lebih bahagia, menjadi pemimpin atau pengikut, toleransi dan berbagi, tentunya bermain yang tetap dalam pengawasan, tetap ada target yang disesuaikan.
Kendala:
1. Orangtua yang masih sibuk dengan emosinya sendiri dan permasalahan dengan pasangan.
2. Orangtua yang tidak tahu bagaimana berinteraksi dengan anak
3. Orangtua yang tidak tahu bermain / bersenang - senang
Sudahkah anak ibu bermain hari ini?
Peran orangtua sangat penting bukan hanya karena diagnosa anak namun karena begitulah semestinya, tidak ada penambahan beban karena anak bukan beban, tidak ada yang berubah orangtua tetap orangtua dan anak tetap jadi anak.
Ketika orangtua diminta terlibat sebenarnya lebih kepada peran mereka sebagai orangtua, jadi tidak mungkin bisa mengatakan ‘ saya tidak bisa jadi guru/ terapis ‘, karena peran yang diminta tetap menjadi orangtua, orangtua yang melindungi dan mendidik.
Ketika anak sudah masuk fase belajar dengan sistem yang lebih terstruktur dan orangtua merasa tidak memilik kemampuan untuk mengajar maka orangtua wajib mencarikan orang lain yang bisa mengajar penuh, kalau tidak bisa penuh maka bagi tugas dengan orangtua, kalau tidak bisa membayar orang lain untuk mengajar maka kewajiban penuh pada orangtua itu sendiri, karena orangtua yang terlibat ( dengan skala kemampuan masing – masing ) memiliki pengaruh yang sangat besar/ signifikan pada perubahan anak.
Saya mungkin tidak bisa merasakan apa yang ibu / bapak rasakan, dan sangat mudah bagi saya untuk memberikan saran dan kritik, namun percayalah saya tidak sedang menggurui bagaimana menjadi orangtua, saya hanya memberikan informasi sebagian dari yang saya pelajari di bangku sekolah dan beberapa pengalaman menangani ABK serta orangtuanya, jadi anda itu tidak sendirian, yang anda alami itu sudah lebih dahulu dialami yang lain, mungkin tidak persis sama, namun memiliki benang merah.
Harapan, itulah yang harus menjadi bahan bakar kita untuk tetap semangat dan konsisten.
Salam..
Bagikan:
chat_bubble Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama membagikan pendapatmu!