Logo Indonesia Mengajar ABK

Indonesia Mengajar ABK

menu
Kekerasan Seksual, pada Special Need (home, 19 jan 2012, around 12 pm)
Kategori: Pendidikan
Pendidikan

Kekerasan Seksual, pada Special Need (home, 19 jan 2012, around 12 pm)

SB

Shinta Barasa

Penulis IMABK

20 Februari 2026

3 menit baca

Saya sudah bekerja sebagai terapis hampir 10 tahun, dari awal mengajar sampai sekarang saya masih menemui seksual abuse yang dilakukan orang sekitar ABK, baik yang dilakukan dengan sengaja maupun tidak sengaja, betapa geram, sedih, dan kecewa perasaan bercampur aduk pada saat yang bersamaan. Seksual abuse yang pertama kali saya saksikan adalah, seorang nanny yang sudah mengasuh klien saya semenjak lahir, saya sering melihat dia menciumi bibir klien saya, saya sebagai terapis baru hanya memperhatikan saja, saya pikir ini nanny pasti sangat sayang namun saya sudah mulai merasakan kejanggalan ketika melihat si nanny mempermainkan kemaluan klien saya ketika di toilet, karena saya pada waktu masih terapis baru maka saya tidak berani menegur, tapi saya mengambil data semua kejadian yang menurut saya janggal, dari mencium bibir, di toilet dan tidur satu tempat tidur ( si anak berumur 11 thn pada waktu itu, autism ), setelah saya rasa cukup maka saya lapor kepada atasan saya, akhirnya si nanny di sidang dan mengaku karena dia sangat sayang dan merasa gemas dengan bibir merahnya ( bibir klien saya memang sangat merah ), dan yang di toilet karena si anak lama sekali pipisnya ( ga masuk akal sama sekali ), tidur bersama, alasannya karena si nanny biar tau kapan anak itu di bawa ke toilet sebelum mengompol. Akhirnya kasusnya selesai setelah si nanny mau bekerja sama. Kasus kedua dan kebanyakkan yang saya temui adalah, nanny yang membersihkan kemaluan setelah pup atau pipis sambil mempermainkan kemaluan ( orangtua keduanya bekerja dan waktu di rumah sangat sedikit untuk mengetahui hal ini, biasanya terapis yang ke rumah akan lebih banyak tau, so terapis jangan ragu untuk melaporkannya ke orangtua klien ) Kasus ketiga karena menganggap remeh, sebagian kecil orangtua ( Maaf tidak bermaksud menyinggung ) menyimpan film dewasanya tidak hati2, ada klien dua klien saya 10thn dan 12thn ( beda keluarga ) tiba2 mengeluarkan suara yang aneh berulang2 ( suara terengah2 ) setelah di cek dan ricek ternyata orangtua menonton film dewasa dengan anak ada di kamar sebelah. Kasus ke empat adalah, keluarga jauh, paman, atau tante. Ada tante yang mengajak klien saya yang 11 tahun mandi bareng, atau paman yang memperlihatkan film dewasa kepada klien saya yang 13 thn. Kasus ke lima dan yang paling gress, kejadian 2 hari yang lalu, ketika saya mengajar murid saya yang 36 thn untuk pergi ke mall, kami keluar komplek kemudian bertemu 4 satpam penjaga komplek, klien saya menyapa mereka, satpam itu juga menyapa dia, lalu setelah beberapa langkah klien saya bilang, ' bu, itu satpam yang saya ceritakan yang suka kasih lihat saya film dewasa'. ( Sebelumnya dia memang sudah bercerita kalau dia pernah nonton ), betapa kangetnya saya, lalu saya minta dia menunggu, saya kembali ke satpam tersebut, sambil berdoa dan mengumpulkan kekuatan, akhirnya saya punya keberanian dan bilang ' permisi pak, maaf saya mendapatkan laporan, kalau ada beberapa orang dari sini, sering memperlihatkan film dewasa kepada X', mereka menjawab' ga mungkin lah bu, dia aja begitu, mana mungkin dia mengerti ' , dalam hati saya semakin marah karena klien saya dianggap sangat rendah, dengan mulut sedikit gemetar karena menahan emosi, akhirnya saya bilang, ' saya hanya mau minta tolong saja ya pak, tidak menuduh siapa2, minta tolong kalau ada yang memperlihatkan sesuatu tidak baik kepada X, mohon di tegur', akhirnya satpam itu bilang 'ok'. Dan saya berlalu menemui klien saya. Yang membuat hati saya semakin sedih dan ingin menangis ketika klien saya bilang, ' bu, tadi ngapain disana, marahin mereka ya', saya jawab ' ga marah hanya bilang aja kok ', lalu dia bilang ' makasi ya bu, saya suka ketawa sendiri karena ingat film itu, saya ga mau kelihatan aneh bu ', seperti di sambar petir rasanya mendengar dia bisa berkata begitu, ingin rasanya memeluknya dan memberikan kekuatan, walaupun sebenarnya saya yang memerlukan kekuatan itu. Saya menulis ini untuk semua orangtua, rekan sejawat, untuk selalu pasang mata, pasang telinga dan langsung mengambil tindakan yang tegas. Semoga semua anak dan orang berkebutuhan khusus dalam lindunganNya. Amien
Bagikan:

chat_bubble Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama membagikan pendapatmu!