Cita-cita menjadi Tuhan.
Shinta Barasa
Penulis IMABK
20 Februari 2026
3 menit baca
Waktu kecil, saya punya cita-cita yang aneh: saya ingin "menjadi Tuhan". Bukan dalam makna yang sebenarnya, melainkan karena saya sangat ingin tahu apa isi kepala dan hati orang lain. Rasa penasaran itu membawa saya masuk ke dunia Psikologi.
Meski tidak masuk ke klinis, perjalanan saya di Psikologi Pendidikan tidak mengurangi rasa penasaran saya terhadap manusia. Dan pelajaran pertama yang paling mudah adalah: mempelajari diri sendiri.
Apa yang Membentuk Kita? (The "Casing" & The System)
Dalam psikologi, manusia sering dikategorikan ke dalam kotak-kotak atau tahapan tertentu. Namun secara biologis dan lingkungan, kita lebih kompleks dari itu:
- The Casing: Tubuh fisik kita (daging, otot, darah). Jika casing-nya sehat, tampilannya pun menarik.
- The Internal System: Kita memiliki sekitar 50 jenis hormon dan 70 triliun bakteri dalam tubuh. Mereka menentukan apakah kita mudah marah, stres, atau bahagia. Posisi mereka ada di otak dan perut (otak kedua kita).
- The Environment: Adat, norma agama, dan sosial yang membentuk kita melalui psikologi lingkungan.
- The Process: Kita adalah hasil dari proses belajar dan perkembangan masa awal (psikoanalisa).
What Makes Us, "US"?
Pernahkah Anda bertanya pada diri sendiri:
"Siapa Anda sebenarnya? Bagaimana karakter Anda? Apa tujuan hidup Anda? Dan bagaimana Anda melihat masa depan?"
Manusia baru menggunakan 10% kemampuan otaknya. Bayangkan jika kita memiliki keyakinan penuh. Kita sering terjebak dalam "kolom-kolom" yang diciptakan para ahli hanya karena kita tidak menyadari kehebatan diri sendiri.
Berhenti Menjadi "Produk", Mulailah Mencipta
Jangan mau hanya menjadi produk masa lalu, produk lingkungan, atau produk keadaan. Setelah usia 18 tahun, Anda punya kuasa penuh atas diri sendiri.
Klik untuk Pesan bagi Setiap Usia
Tak peduli usia Anda 30, 40, 50, atau 60 tahun; waktu untuk berubah, meraih cita-cita, dan mencintai diri sendiri masih terbuka lebar. Anda yang menentukan apakah hari ini mau bahagia, atau apakah besok akan bangkit lagi setelah jatuh.
Jiwa sebagai Penopang Terakhir
Terakhir, ada Jiwa. Jiwa yang meyakini adanya Pelindung Yang Maha Kuasa akan membawa rasa aman. Rasa aman inilah yang menghindarkan kita dari persepsi buruk yang merugikan diri sendiri.
Tiga Pilar Penjaga Diri:
- Jaga Tubuh: Karena ini adalah casing kita. Jika ia tidak sehat, jiwa pun terganggu.
- Jaga Hati & Jiwa: Agar kita selalu berada di frekuensi positif.
- Pilih Jati Diri: Katakan, "Saya bukan hasil sebuah produk, saya memilih untuk menjadi saya yang lebih baik setiap harinya."
Kesimpulan: Menjadi Perpanjangan Tangan Tuhan
Ketika kita sudah mengenal diri sendiri, barulah kita bisa melihat anak kita dengan lebih jelas. Kita menjadi wali mereka, perpanjangan tangan Tuhan dalam menjaganya. Merawat anak bukan lagi soal ego kita, tapi sepenuhnya tentang mereka.
Selamat berakhir pekan. Namaste.
#SelfDiscovery #Psychology #MentalHealth #ParentingReflections
chat_bubble Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama membagikan pendapatmu!