Mulai berbagi dengan pasangan dan kepada Tuhan.
Shinta Barasa
Penulis IMABK
20 Februari 2026
2 menit baca
Sering kali, orangtua datang dengan tumpukan pertanyaan yang berujung pada kebingungan. Terlalu banyak informasi terkadang justru membuat langkah kita terhenti. Mari kita simak percakapan singkat ini:
Dialog: Dilema Memilih Terapi
Ibu: "Bu, saya mau ikut terapi tapi bingung mau pilih yang mana? Semakin banyak tanya semakin bingung."
Saya: "Anak Ibu usia berapa dan gangguannya apa?"
Ibu: "Usia 3,5 tahun, diagnosanya Autis, bu. Saya khawatir karena dia belum bicara, hanya tarik tangan, suka lompat-lompat dan tepuk tangan. Terapi apa ya bu? ABA, SI, OT, atau TW?"
Saya: "Mari kita fokus pada perilakunya. Usia 3,5 tahun itu usia bermain. Bagaimana kalau belajarnya ikut pola dia main dulu agar anak nyaman?"
Ibu: "Itu terapi juga ya bu? Ibu terapis ABA?"
"Saya tidak bilang itu terapi. Saya lebih senang jika Ibu bisa bonding (membangun kedekatan) dan engagement. Jadilah reinforcement bagi anak; jadilah orang yang paling favorit bagi dia. Jika anak menyukai Anda sebagai 'hadiah' terbaiknya, apapun yang Anda minta akan diikuti dengan senang hati."
Ibu: "Gimana caranya bu, dia lihat saya saja cuma melirik sekian detik..."
Saya: "Itulah yang harus digali melalui bermain. Jika mampu secara finansial, silakan pilih terapi. Tapi ingat, suksesnya terapi bukan hanya soal tempat yang terkenal."
Faktor Penentu Kesuksesan Terapi
Suksesnya sebuah terapi adalah hasil kolaborasi dari banyak variabel. Tidak ada jalan pintas yang instan.
- Internal Anak: Diagnosa dan kondisi spesifik anak.
- Program & Evaluasi: Bentuk terapi yang dijalankan dan bagaimana ia dievaluasi.
- Keterlibatan Orangtua: Konsistensi orangtua di rumah adalah kunci utama.
- Kerja Sama Tim: Kolaborasi antara tim rumah (nenek, tante, om) dan tim medis (terapis, psikolog, dokter).
Langkah Nyata: Berhenti Galau, Mulai Bergerak
Wajar jika Ibu merasa bingung. Itu normal. Namun, jangan biarkan kebingungan melumpuhkan langkah Anda.
Klik untuk Langkah Aksi (Action Plan)
- Batasi Media Sosial: Stop melihat sosmed jika hanya menambah kebingungan. Fokus pada anak di depan mata.
- Beri Waktu Bergalau: Jangan hindari rasa sedih, itu manusiawi. Tapi beri tenggat waktu (misal: maksimal 3 hari).
- Set Rencana: Setelah tenggat waktu habis, segera tentukan rencana dan bergerak.
- Pilih dengan Ilmu: Pilih tempat terapi karena Anda sudah tahu seluk-beluknya, bukan hanya karena rekomendasi orang atau karena terkenal.
Catatan Penutup
Jangan membandingkan proses anak Anda dengan anak orang lain. Setiap anak punya garis waktu yang berbeda, dan setiap orangtua punya kapasitas yang berbeda pula.
#Kemudiansiibumenangis — Karena terkadang, yang dibutuhkan orangtua bukan hanya daftar tempat terapi, tapi izin untuk merasa rapuh sebelum akhirnya kembali kuat untuk bergerak.
Salam Peduli Anak Berkebutuhan Khusus.
chat_bubble Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama membagikan pendapatmu!