Keimanan seorang Muslim dan menjadi orangtua ABK
Shinta Barasa
Penulis IMABK
20 Februari 2026
3 menit baca
Dalam pertemuan dengan para orangtua, selain membahas program anak, sering kali terselip pembicaraan dari hati ke hati. Banyak yang mengaku sering terlupakan waktu sholat karena terlalu sibuk memastikan rencana harian berjalan sempurna—mulai dari anak bangun hingga tidur kembali.
Kecemasan yang tinggi biasanya menyerang mereka yang terbiasa mengontrol segalanya. Ketika ada hal yang tidak berjalan sesuai rencana, kepanikan pun muncul.
Anak sebagai Ujian Keimanan
Al-Qur'an telah mengingatkan kita tentang potensi lalainya manusia karena harta dan keturunan:
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi."
(QS. Al-Munaafiqun: 9)
Rasulullah SAW pun sangat menyayangi anak-anak. Beliau pernah memotong khutbahnya demi mengangkat cucu beliau, Al-Hasan dan Al-Husain, yang terjatuh saat berjalan. Beliau bersabda bahwa harta dan anak-anak adalah cobaan (fitnah). Kecintaan kita pada anak hendaknya tidak melebihi kecintaan kita pada Sang Pemberi titipan.
Menyerahkan Urusan kepada Sang Pemilik Hidup
Kita tidak bisa mengontrol hidup sepenuhnya. Saat kita merasa sesak dan terbebani, itu adalah tanda bahwa kita mungkin terlalu mengandalkan diri sendiri.
Dalam Surah Luqman Ayat 22, Allah SWT berfirman:
وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى وَإِلَى اللَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ
"Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan."
"Me Time" Bersama Allah
Allah itu dekat, bahkan hanya sejauh doa. Janji-Nya tidak pernah ingkar: Allah tidak akan menguji hamba-Nya di luar batas kemampuannya. Namun, pertanyaannya adalah: Sudahkah kita benar-benar mengimaninya?
Jika masih ada rasa galau dan beban yang menghimpit, katakanlah dengan lantang:
"Hai masalah, seberapa besar pun kamu, aku memiliki Allah yang jauh lebih besar!"
Mari kembali menjadwalkan Me Time bersama Allah. Bukan sekadar menggugurkan kewajiban sholat 5 waktu, melainkan memaksimalkan esensi pertemuan tersebut sebagai tempat berserah penuh dan berpengharapan mutlak.
Langkah Untuk Menjaga Hati:
- Evaluasi Jadwal: Pastikan waktu ibadah adalah prioritas, bukan sisa waktu.
- Jihad Mendekat: Sebagaimana dalam Al-Maidah: 35, carilah jalan untuk terus mendekatkan diri kepada-Nya.
- Harapan Mutlak: Barangsiapa mengharap pertemuan dengan Allah, maka waktu yang dijanjikan pasti akan datang (Al-Ankabut: 5).
Salam bagimu, sahabat sesamaku. Berharaplah hanya pada Allah.
*Note: Kutipan ayat dan hadits disadur untuk penguatan sesama orangtua Muslim. Jika terdapat kekeliruan penulisan/arti, mohon masukkannya untuk perbaikan.
chat_bubble Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama membagikan pendapatmu!