Logo Indonesia Mengajar ABK

Indonesia Mengajar ABK

menu
Karena Kita si Pengguna Jasa
Kategori: Pendidikan
Pendidikan

Karena Kita si Pengguna Jasa

SB

Shinta Barasa

Penulis IMABK

07 Maret 2021

3 menit baca

Dalam dunia terapi anak berkebutuhan khusus, kita sering mendengar istilah "Taking care of your therapist." Jika diterjemahkan secara harfiah sebagai "menjalin hubungan baik", rasanya maknanya masih kurang dalam.

Intinya adalah bagaimana kita, sebagai pengguna jasa, merawat mereka yang merawat anak kita.


Mengapa Harus "Taking Care"?

Mungkin kita berpikir, "Bukankah ini hubungan bisnis murni? Saya membayar, mereka bekerja." Secara logika benar, namun ada beberapa alasan kuat mengapa hubungan ini harus dijaga lebih dari sekadar transaksi:

  • Hubungan Jangka Panjang: Terapi biasanya berlangsung minimal 2 tahun. Menjaga terapis tetap "betah" adalah investasi untuk stabilitas progres anak.
  • Mencegah Turn-over: Banyak terapis berhenti tiba-tiba karena merasa tidak dihargai, beban kerja berlebihan, atau fasilitas dasar yang terabaikan.
  • Aspek Manusiawi: Terapis adalah manusia yang bisa lelah, pusing karena masalah pribadi, dan butuh apresiasi.
"Menjadi orangtua ABK itu berat. Tapi menjadi orangtua yang mampu menekan ego demi kestabilan mental dan kelangsungan terapi anak adalah perjuangan yang jauh lebih mulia."

Langkah Nyata bagi Orangtua (Pengguna Jasa)

Sebagai konsumen yang bertanggung jawab, ada beberapa hal strategis yang bisa kita lakukan:

1. Diskusi Rutin & Merayakan Progres

Jangan hanya bicara saat ada masalah. Adakan diskusi mingguan untuk membahas hambatan. Saat anak menunjukkan kemajuan, rayakanlah bersama terapis. Ini memberikan Sense of Pride (rasa bangga) atas kerja keras mereka.

2. Mengenal Karakter Terapis

Jika anak memiliki lebih dari satu terapis, kenali kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jangan menyerahkan 100% evaluasi kepada institusi/klinik, karena performa terapis bisa berbeda di tiap klien.

3. Memenuhi Kebutuhan Dasar & Hak

Seringkali terapis berhenti bukan karena pekerjaan yang sulit, tapi karena hal-hal non-inti seperti:

  • Akses untuk sholat dan ibadah.
  • Waktu istirahat, makan, dan minum yang jelas (terutama untuk kerja full-time).
  • Hak libur di tanggal merah atau jatah cuti untuk menyegarkan pikiran.

Menekan Ego Demi Subjek Utama: Anak

Ketika kita berkomitmen memiliki terapis, kita juga berkomitmen atas penggajian, evaluasi, dan komunikasi yang terbuka. Kita harus bisa dekat, namun tetap menjaga batasan profesional yang diperlukan.

Klik: Tips Komunikasi Preventif

Jika melihat performa terapis menurun, jangan langsung menegur dengan keras. Cobalah diskusi santai: "Apakah ada beban kerja yang berlebihan?" atau "Apakah sedang ada masalah pribadi?". Terkadang, menawarkan cuti sehari bisa menyelamatkan hubungan kerja untuk bertahun-tahun ke depan.


Kesimpulan: Perubahan Dimulai dari Dalam

Menjadi orangtua berkebutuhan khusus tidak akan pernah mudah selama kita tidak mau melakukan perubahan dari dalam diri sendiri. Mari tingkatkan kemampuan interpersonal kita, belajar membaca hubungan, dan berani berkomitmen.

Salam Peduli Anak Berkebutuhan Khusus.

*Note: Tulisan ini fokus pada sisi pengguna jasa. Tanggung jawab penyedia jasa akan dibahas di lain kesempatan.

Bagikan:

chat_bubble Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama membagikan pendapatmu!